1378445_746998305317586_2108497737_nSudah kurang lebih selama 2 tahun saya secara resmi menyandang status sebagai ‘sarjana’ lulusan Sistem Informasi (SI) komputer di STMIK Profesional Makassar. Saya hanya ingin merefleksi perjalanan agak panjang bagaimana saya bisa kuliah dan bisa jadi sarjana seperti sekarang ini.
Pertama, sebelum melangkah terlalu jauh, perlu dijadikan catatan bahwa gelar seseorang itu tidaklah merupakan suatu patokan yang pasti mengenai tingkat intelektual dari seseorang. Ada orang yang megoleksi banyak gelar, namun tak mampu menunjukkannya dalam dunia nyata bahwa dia berkompetensi atau paling tidak bisa bersikap di masayarakat seperti sewajarnya.
Baiklah, kita mulai saja catatan perjalanan ini.
Bagian 1.
Aku lulus di SMAN 1 Malili pada tahun 2008 dan aku ingin seperti orang-orang kebanyakan yang di saat selesai di bangku SMA bisa langsung menginjakkan kakinya di sebuah universitas. Ternyata keberuntungan belum berpihak kepadaku. Di lain sisi, di saat yang bersamaan aku berpikir keras antara mengejar mimpi untuk melanjutkan kuliah ataukah harus mnghadapi realitas bahwa orang tuaku belum sanggup untuk membiayaiku masuk dan yang pasti aku juga sadar diri bahwa kemampuan akademik yang pas-pasan merupakan modal nekat untuk daftar. Dengan pertimbangan utama aku hanya berdoa dan memasrahkan semuanya kepada Allah. Karena aku yakin kalau tuhan pasti tidak akan memberi kita ujian diluar batas kemampuan hambanya.
Bagian 2.

Read the rest of this entry »

Kini, banyak orang desa yang  anak-anaknya kuliah di kota besar. Namun kisah menggelitik seputar keluguan orang desa dalam memahami dinamika kampus dan mahasiswa kerap kali muncul. Berikut sepenggal kisah tersebut.

Seorang mahasiswa semester 1 yang baru saja duduk di bangku perguruan tinggi di Makassar, mengirimkan surat kepada kedua orang tuanya di desa nun jauh di Timur Sulawesi yaitu Malili dengan Luwu Timur sebagai Kabupatennya. Begini isi suratnya:

“Bapak dan Ibu, alhamdulillah, saat ini saya sudah mulai kuliah di Makassar. Kuliahnya dari pagi sampai siang. Teman-temanku di sini baik-baik, malah banyak juga yang berasal dari daerah. Saya juga sudah tinggal sama Om di sini, Oh ya, Bapak dan Ibu, nilai saya semester 1 ini sudah keluar, yaitu 3,5. Doakan saya semoga kerasan tinggal di Makassar”

Sebulan kemudian, mahasiswa tersebut menerima balasan tersebut ;

“Anakku, alhamdulillah kamu sudah mulai kuliah. Kami berdua mengharapkan kau cepat lulus dan membantu menyekolahkan adik-adikmu. Mohon maaf bila bulan depan uang kiriman kami agak telat, soalnya harga Coklat sedang turun, kata orang-orang desa akibat musim panen telah lewat”.

Banyak hal yang bisa terjadi selagi kita tinggal dirantau orang, namun do’a dari kedua orangtuamu ini akan selalu ada untukmu,.. Jadilah anak yang baik, berbakti kepada Dosen dan selalu berbuat baik kepada semua teman-temanmu di Kampus. Karena tak ada apa yang bisa kita andalkan sebagai orang kecil selain rasa hormat terhadap orang lain.. Selagi kita berbuat baik kepada orang lain, insyaallah kita akan mendapatkan balasannya kelak,…Aminnn

Salam sayang Bapak dan Ibu dari Kampung Pabeta,..

Apa yang terlintas ketika anda membaca judul ini?? dan untuk siapakah judul ini tepat di gunakan..???
semua itu untuk Anak Rantau..

Saya terlahir dari keluarga yang cukup sederhana, awal saya menjelajahi negeri orang yaitu ketika saya berumur 20 tahun, dan kota pertama saya melangkahkan kaki adalah kota Makassar. mungkin bagi beberapa orang kota Makassar itu bukanlah kota yang kejam karena masih banyak roda-roda kehidupan yang saling membutuhkan alias persaudaran masih terikat, namun itu bagi saya hanyalah sebuah kiasan agar saya tidak takut menjalani kehidupan ini. Banyak hal yang saya pikirkan dan saya takutkan ketika saya pertama kalinya hadir di tanah orang, dalam pemikiran saya, Apakah ku bisa nantinya menjalani hidup ini tanpa adanya keluarga di sampingku, Namun itu smua hilang sangkin semangatnya.

Keputusan telah bulat dan siap menjalani hidup ini. Awal saya di Makassar masih indah dan masih semangat karena masih di temani Ibu saya dalam 1 hari itu. Tetapi tau gak sobat2 semuanya, Semua hilang dan semua terasa ketika Ibu saya sudah pulang ke Kampung. Hidupku langsung terasa hampa dan kosong, Semua seakan hilang dari kehidupanku, yang ada hanya isak tangis. Setiap harinya hanya bertemankan Bantal dan Ruangan Kamar yang hampa, Semua menghiasi betapa sakitnya yang kurasakan.

Banyak tantangan yang harus kulalui, mulai dari mencari sahabat dan belajar mandiri. sakit memang dan kisah ini belum putus-putusnya menyiksa ku, yang dulu bisa ngapain kesana-kemari, main-main dengan teman semua sirna dari kehidupanku, Aktivitas hanya di kamar yaitu Menangis sampai Mata Bengkak. Ingin rasanya pulang dan tak kembali lagi ke Kota ini, tapi harus bagaimana semua keputusan telah ku Buat dan Siap gak Siap harus ku jalani kehidupan ini.

Namun setelah ada 1 Bulan perasaan dan pikiran mulai tenang dan ku siap menjadi anak rantau.
Itulah Sob awal ku hidup di negeri orang… Bagaimana dengan Kisahmu..???

 

 

 

Bertemu dan berpisah sudah menjadi suratan manusia,  entah itu berpisah karena kurang cocoknya, atau berpisah karena memang sudah takdirnya. perih dan sakit kan merasuk kejiwa namun ketika hati kan bijak menerima segala kenyataan yang ada pasti semua kan baik-baik saja.

Menjalani hidup memang banyak lika-liku yang hendak di lalui untuk mencapai segalanya, dan dengan itu maka kita senantiasa dituntut dengan cepat mengenai bagaiman kita bisa dan Mampu untuk Menjalani semuanya.

Perpisahan yang hanya sementara memang kadang terasa sulit meski kadang kita hanya Pergi untuk Sementara dari rumah dan Harus berpisah dengan keluarga, Termasuk kedua Orang tua, adik, kakak, tante, om, dan semua sanak keluarga yang lain yang kita miliki di kampung.

Do’a dari orang tua merupakan satu hal yang amat sangat ampuh dalam menjalani hidup ini kawan, Tetaplah Semangat dan Buatlah Orangtua kita bangga dengan apa yang mereka harapkan dari kita.

Buat Temanku…
Tidak ada pertemuan yang tak terpisahkan… bisa bersamamu selama ini adalah sebuah anugerah yang terindah karena bersamamu kita telah mengukir kesan yang indah tiada tara yang tak akan lupa hingga akhir masa.

Buat Sahabat…
Dirimu adalah yang istimewa disini dihati ini dimana kita bisa saling berbagi bersama tentang suka dan duka, terima kasih atas nasehatmu, terima kasih atas perhatianmu, maafkan atas kekhilafanku… aku akan selalu mengenangmu sepanjang waktu.

Buat Kekasihku…
Dirimu adalah segalanya bagiku, inspirasi atas segala inovasiku, nafas dalam kehidupanku, semangat dalam lemahku, gairah dalam kelesuanku.
Kasihku padamu seperti kasihmu padaku yang tak akan pudar dimakan waktu, meski senja tlah berlalu tunggu aku diujung jalan itu…
tempat dimana kita pernah bersatu…

Tetaplah yakin bahwa apa yang terjadi itulah yang terbaik, jadi jangan pernah  larut dalam sedih kalau berpisah karena Allah akan memberikan yang terbaik untukmu. apa yang baik menurut anda belum tentu  baik di mata Allah begito pula sebaliknya.

Ibu, emak, bunda, ummi, atau apalah istilahnya adalah orang yang semestinya paling dekat dengan kita. Dari rahimnyanyalah kita dibentuk hingga lahir dan menjadi. Di rahim, tempat terempuk dalam menerima tumpahan kasih. Entah sengaja atau tidak, nama itu menjadi nama yang selaras dengan salah satu sifat Tuhan, Asmaul Husna.

Saya memanggil ibu dengan sapaan mak. Kilas kasihnya saat aku kecil dulu masih membekas hingga kini. Bagiku ibu adalah simbolisme kasih yang tak ada batasnya. Tumpahan kasih yang tak habis-habisnya. Malah hingga kini, saat aku telah menjadi orang tua. Ibu tetap tak pernah habis rasa kasihnya.

Setiap saat, setiap waktu, saat melihat anak saya bersama umminya, saya terkenang ibu. Ibu yang terpisah jarak ribuan kilo. Ibu yang masih setia berada di kampung halaman. Sebuah desa atau kampung yang berada di Luwu Timur tepatnya MALILI sana. Sementara aku, anaknya, jauh di rantau, Makassar, daerah Sulawesi Selatan.

Biasanya bila rindu datang, aku menghubungi ibu lewat pesawat handphone. Rasanya ingin menangis bila suara ibu yang serak kembali menggetarkan ruang telingaku. Ada hawa sejuk mendengar nasihat yang ibu berikan. Ibu selalu begitu. Tak peduli anaknya sudah menjadi orang tua dan punya istri serta anak.

Bagi saya, ibu sosok pekerja keras. Ibu memang pernah bersekolah namun hanya sampai SD saja. Akan tetapi, perhatian pada pendidikan, dunia sekolah, telah mendorong ibu untuk bersikap tegas: anak-anaknya harus bersekolah. Alhamdulillah, pesan mendiang bapak selalu diingat dan diterapkan ibu dalam kenyataan. Sesulit apapun, pendidikan harus nomor satu. Anak-anaknya –yakni saya dan saudara-saudara saya – harus sekolah.

Rata-rata tamat SMP atau SMA kami, anak-anak ibu, pergi merantau. Melanjutkan pendidikan atau mencari kerja. Saya sendiri sebagai anak Pertama merantau untuk  kuliah.

Tahun 2009 awal saya mula menetap di Makassar Hingga kini berarti sudah 3 tahun.

Beberapa kali saya pulang ke kampung, bertemu dengan ibu dan sanak saudara. Melepas rindu pada ibu. Namun bila telah kembali ke pulau MALILI, kidung rindu pada ibu tetap menderu dalam kebeningan jiwa.

Terakhir saya pulang tahun 2010. Sejak itu saya belum lagi melihat kampung halaman. Tetapi untunglah, saya selalu bisa berjumpa dengan ibu. Ibulah yang berkunjung ke Makassar, setelah sebelumnya mampir di tempat famili lainnya.

Kini, kidung rindu itu terus bergemuruh, berbantun-bantun, menelusup setiap desah napas. Gemuruh yang kian menderu manakala tembang “Ibu” di atas dilantunkan Iwan Fals. Begitu indah, begitu sahdu.

Dan di bebukitan dan indahnya pantai LOSARI, rinduku kian menggemuruh, bersama kidung kasih yang tetap mendayu-dayu.

Tak pernah terbayang dan terpikir sebelumnya hidup sendiri jauh dari orang-orang tercinta. Waktu itu hanya semangat dan tekad yang membaja yang ada dalam pikiranku, yang akhirnya mengantar aku sampai disini. Hari-hari pertama kulalui terasa teramat lama, sehari terasa seminggu, seminggu terasa sebulan. walau begitu kulalui semua itu dengan sabar, hingga tak terasa 2 tahun sudah aku hidup disini.

Namun demikian,bayangan akan kampung halaman senantiasa masih terbayang,seperti halnya jernihnya air sungai karang,jernihnya sungai kuripan, suasana sungai menjelang sore yang sungguh sangat menarik untuk dinikmati. semua itu masih sangatlah lekat dalam benakku, kini baru aku mengerti betul akan pepatah” hujan duit dinegeri orang lebih baik hujan batu dinegeri sendiri”ccoba kalau pepatah itu dibalik menjadi”hujan batu dinegeri orang lebih baik hujan duit dinegeri sendiri”, pasti aq pilih alternatif yang kedua. Namun walaupun demikian aku coba untuk menikmati semua ini, karena aku sadar disinilah tempat untuk merajut masa depan yang mungkin akan lebih baik.

Dan aku bersyukur sekarang sudah ada teman-teman yang senantiasa setia menemani hari-hari sunyiku, dialah pembunuh kejenuhan, penghilang rasa lelah sehabis bekerja,penghibur hati manakala sedang kangen dengan orang-orang tercinta.tanpa laptop sekarang ini bisa-bisa mriang aku. bukan berarti laptop adalah segalanya, tetapi dengan benda ini aku dapat menjelajah dunia maya dan nikmati perkembangan / berita terkini khususnya tentang indonesiaku tercinta.

Perjalananku masihlah panjang, masih ada kurang lebih 900 hari lagi yang harus aku tempuh, akankah aku dapat melaluinya? aq tidak tau jawabanya, mungkin harus ditanyakan pada rumput yang bergoyang, kalau tidak pada galileo aku minta doanya yaaa… semoga dapat aku lalui hari-hariku disini dengan selamat dan bisa dapatkan apa yang aku impikan amiiien.

Awal mulanya aku menginjakkan kakiku disuatu tempat yang baru ku kenal aku menanamkan niat dalam lubuk hatiku yang paling dalam,bahwa aku akan mendapat kesuksesan ditempat itu.Aku memiliki sedikit harapan yang amat besar,yakni membuat kedua orang tuaku menjadi bangga memiliki anak seperti aku.

Aku sebenarnya berasal dari keluarga yang kehidupan sehari-harinya bisa dibilang pas-pasan,sebenarnya aku masih memiliki keinginan yang belum tercapi yaitu ingin melanjutkan pendidikanku ke jenjang yang lebih tinggi yaitu bangku kuliah.Karena aku merasa bahwa apa yang kudapat semenjak sekolah dari SD-SMA masih kurang dan masih perlu banyak penambahan, namun terhambat oleh faktor biaya.

Oleh karena itu setelah selesai melanjutkan sekolahku dibangku SMA aku memutuskan untuk pergi merantau dan mencari pekerjaan agar aku bisa merubah keadaanku ini,dan jika aku telah mendapat pekerjaan aku akan kembali melanjutkan harapanku yang sempat tertunda yaitu melanjutkan kependidikan yang lebih tinggi dengan biaya sendiri dan mencoba untuk belajar mandiri, karena tidak ada kata terlambat untuk belajar selagi kita masih memiliki harapan yang besar.

Memang tidak mudah untuk mewujudkan sesuatu yang ingin dicapai apalagi jika kita mengalami yang namanya kegagalan,dan apa yang kita harapkan pun seolah musnah setelah usaha yang semaksimal mungkin telah kita lakukan sia-sia.

Jangan pernah menganggap bahwa usaha yang telah kita lakukan dengan semaksimal mungkin selalu berbanding terbalik dengan apa yang diharapkan, karena tidak semua hal yang ingin dicapai semudah membalikkan telapak tangan.

Oleh karena itu, kita harus mencoba untuk belajar dari kegagalan karena dari  setiap masalah pasti ada pelajaran yang bisa kita petik sehingga kita bisa menjadi orang yang lebih bijak lagi dalam menjalani hidup ini.

Hanya ada satu hal yang selalu saya ingat sesuai nasehat dari kedua orang tua saya, bahwa jangan pernah putus asa jika menemui kegagalan dalam mencapai keinginan dan harapan. Dan yang paling utama adalah jangan pernah gengsi untuk mengakui keadaan diri sendiri, terutama jika kita ingin mencapai harapan dan keinginan kita dengan sempurna.