My Blog











{June 14, 2011}   Rinduku Pada IBU

Ibu, emak, bunda, ummi, atau apalah istilahnya adalah orang yang semestinya paling dekat dengan kita. Dari rahimnyanyalah kita dibentuk hingga lahir dan menjadi. Di rahim, tempat terempuk dalam menerima tumpahan kasih. Entah sengaja atau tidak, nama itu menjadi nama yang selaras dengan salah satu sifat Tuhan, Asmaul Husna.

Saya memanggil ibu dengan sapaan mak. Kilas kasihnya saat aku kecil dulu masih membekas hingga kini. Bagiku ibu adalah simbolisme kasih yang tak ada batasnya. Tumpahan kasih yang tak habis-habisnya. Malah hingga kini, saat aku telah menjadi orang tua. Ibu tetap tak pernah habis rasa kasihnya.

Setiap saat, setiap waktu, saat melihat anak saya bersama umminya, saya terkenang ibu. Ibu yang terpisah jarak ribuan kilo. Ibu yang masih setia berada di kampung halaman. Sebuah desa atau kampung yang berada di Luwu Timur tepatnya MALILI sana. Sementara aku, anaknya, jauh di rantau, Makassar, daerah Sulawesi Selatan.

Biasanya bila rindu datang, aku menghubungi ibu lewat pesawat handphone. Rasanya ingin menangis bila suara ibu yang serak kembali menggetarkan ruang telingaku. Ada hawa sejuk mendengar nasihat yang ibu berikan. Ibu selalu begitu. Tak peduli anaknya sudah menjadi orang tua dan punya istri serta anak.

Bagi saya, ibu sosok pekerja keras. Ibu memang pernah bersekolah namun hanya sampai SD saja. Akan tetapi, perhatian pada pendidikan, dunia sekolah, telah mendorong ibu untuk bersikap tegas: anak-anaknya harus bersekolah. Alhamdulillah, pesan mendiang bapak selalu diingat dan diterapkan ibu dalam kenyataan. Sesulit apapun, pendidikan harus nomor satu. Anak-anaknya –yakni saya dan saudara-saudara saya – harus sekolah.

Rata-rata tamat SMP atau SMA kami, anak-anak ibu, pergi merantau. Melanjutkan pendidikan atau mencari kerja. Dua anak ibu (nomor 4 dan 10) setelah merantau, kembali ke kampung halaman. Saya sendiri sebagai anak Pertama merantau untuk  kuliah.

Tahun 2009 awal saya mula menetap di Makassar Hingga kini berarti sudah 3 tahun.

Beberapa kali saya pulang ke kampung, bertemu dengan ibu dan sanak saudara. Melepas rindu pada ibu. Namun bila telah kembali ke pulau MALILI, kidung rindu pada ibu tetap menderu dalam kebeningan jiwa.

Terakhir saya pulang tahun 2010. Sejak itu saya belum lagi melihat kampung halaman. Tetapi untunglah, saya selalu bisa berjumpa dengan ibu. Ibulah yang berkunjung ke Makassar, setelah sebelumnya mampir di tempat famili lainnya.

Kini, kidung rindu itu terus bergemuruh, berbantun-bantun, menelusup setiap desah napas. Gemuruh yang kian menderu manakala tembang “Ibu” di atas dilantunkan Iwan Fals. Begitu indah, begitu sahdu.

Dan di bebukitan dan indahnya pantai LOSARI, rinduku kian menggemuruh, bersama kidung kasih yang tetap mendayu-dayu.



Tak pernah terbayang dan terpikir sebelumnya hidup sendiri jauh dari orang-orang tercinta. Waktu itu hanya semangat dan tekad yang membaja yang ada dalam pikiranku, yang akhirnya mengantar aku sampai disini. Hari-hari pertama kulalui terasa teramat lama, sehari terasa seminggu, seminggu terasa sebulan. walau begitu kulalui semua itu dengan sabar, hingga tak terasa 2 tahun sudah aku hidup disini.

Namun demikian,bayangan akan kampung halaman senantiasa masih terbayang,seperti halnya jernihnya air sungai karang,jernihnya sungai kuripan, suasana sungai menjelang sore yang sungguh sangat menarik untuk dinikmati. semua itu masih sangatlah lekat dalam benakku, kini baru aku mengerti betul akan pepatah” hujan duit dinegeri orang lebih baik hujan batu dinegeri sendiri”ccoba kalau pepatah itu dibalik menjadi”hujan batu dinegeri orang lebih baik hujan duit dinegeri sendiri”, pasti aq pilih alternatif yang kedua. Namun walaupun demikian aku coba untuk menikmati semua ini, karena aku sadar disinilah tempat untuk merajut masa depan yang mungkin akan lebih baik.

Dan aku bersyukur sekarang sudah ada teman-teman yang senantiasa setia menemani hari-hari sunyiku, dialah pembunuh kejenuhan, penghilang rasa lelah sehabis bekerja,penghibur hati manakala sedang kangen dengan orang-orang tercinta.tanpa laptop sekarang ini bisa-bisa mriang aku. bukan berarti laptop adalah segalanya, tetapi dengan benda ini aku dapat menjelajah dunia maya dan nikmati perkembangan / berita terkini khususnya tentang indonesiaku tercinta.

Perjalananku masihlah panjang, masih ada kurang lebih 900 hari lagi yang harus aku tempuh, akankah aku dapat melaluinya? aq tidak tau jawabanya, mungkin harus ditanyakan pada rumput yang bergoyang, kalau tidak pada galileo aku minta doanya yaaa… semoga dapat aku lalui hari-hariku disini dengan selamat dan bisa dapatkan apa yang aku impikan amiiien.



{February 13, 2010}   Harapan Dan keinginan

Awal mulanya aku menginjakkan kakiku disuatu tempat yang baru ku kenal aku menanamkan niat dalam lubuk hatiku yang paling dalam,bahwa aku akan mendapat kesuksesan ditempat itu.Aku memiliki sedikit harapan yang amat besar,yakni membuat kedua orang tuaku menjadi bangga memiliki anak seperti aku.

Aku sebenarnya berasal dari keluarga yang kehidupan sehari-harinya bisa dibilang pas-pasan,sebenarnya aku masih memiliki keinginan yang belum tercapi yaitu ingin melanjutkan pendidikanku ke jenjang yang lebih tinggi yaitu bangku kuliah.Karena aku merasa bahwa apa yang kudapat semenjak sekolah dari SD-SMA masih kurang dan masih perlu banyak penambahan, namun terhambat oleh faktor biaya.

Oleh karena itu setelah selesai melanjutkan sekolahku dibangku SMA aku memutuskan untuk pergi merantau dan mencari pekerjaan agar aku bisa merubah keadaanku ini,dan jika aku telah mendapat pekerjaan aku akan kembali melanjutkan harapanku yang sempat tertunda yaitu melanjutkan kependidikan yang lebih tinggi dengan biaya sendiri dan mencoba untuk belajar mandiri, karena tidak ada kata terlambat untuk belajar selagi kita masih memiliki harapan yang besar.

Memang tidak mudah untuk mewujudkan sesuatu yang ingin dicapai apalagi jika kita mengalami yang namanya kegagalan,dan apa yang kita harapkan pun seolah musnah setelah usaha yang semaksimal mungkin telah kita lakukan sia-sia.

Jangan pernah menganggap bahwa usaha yang telah kita lakukan dengan semaksimal mungkin selalu berbanding terbalik dengan apa yang diharapkan, karena tidak semua hal yang ingin dicapai semudah membalikkan telapak tangan.

Oleh karena itu, kita harus mencoba untuk belajar dari kegagalan karena dari  setiap masalah pasti ada pelajaran yang bisa kita petik sehingga kita bisa menjadi orang yang lebih bijak lagi dalam menjalani hidup ini.

Hanya ada satu hal yang selalu saya ingat sesuai nasehat dari kedua orang tua saya, bahwa jangan pernah putus asa jika menemui kegagalan dalam mencapai keinginan dan harapan. Dan yang paling utama adalah jangan pernah gengsi untuk mengakui keadaan diri sendiri, terutama jika kita ingin mencapai harapan dan keinginan kita dengan sempurna.



et cetera
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.