Ibu, emak, bunda, ummi, atau apalah istilahnya adalah orang yang semestinya paling dekat dengan kita. Dari rahimnyanyalah kita dibentuk hingga lahir dan menjadi. Di rahim, tempat terempuk dalam menerima tumpahan kasih. Entah sengaja atau tidak, nama itu menjadi nama yang selaras dengan salah satu sifat Tuhan, Asmaul Husna.
Saya memanggil ibu dengan sapaan mak. Kilas kasihnya saat aku kecil dulu masih membekas hingga kini. Bagiku ibu adalah simbolisme kasih yang tak ada batasnya. Tumpahan kasih yang tak habis-habisnya. Malah hingga kini, saat aku telah menjadi orang tua. Ibu tetap tak pernah habis rasa kasihnya.
Setiap saat, setiap waktu, saat melihat anak saya bersama umminya, saya terkenang ibu. Ibu yang terpisah jarak ribuan kilo. Ibu yang masih setia berada di kampung halaman. Sebuah desa atau kampung yang berada di Luwu Timur tepatnya MALILI sana. Sementara aku, anaknya, jauh di rantau, Makassar, daerah Sulawesi Selatan.
Biasanya bila rindu datang, aku menghubungi ibu lewat pesawat handphone. Rasanya ingin menangis bila suara ibu yang serak kembali menggetarkan ruang telingaku. Ada hawa sejuk mendengar nasihat yang ibu berikan. Ibu selalu begitu. Tak peduli anaknya sudah menjadi orang tua dan punya istri serta anak.
Bagi saya, ibu sosok pekerja keras. Ibu memang pernah bersekolah namun hanya sampai SD saja. Akan tetapi, perhatian pada pendidikan, dunia sekolah, telah mendorong ibu untuk bersikap tegas: anak-anaknya harus bersekolah. Alhamdulillah, pesan mendiang bapak selalu diingat dan diterapkan ibu dalam kenyataan. Sesulit apapun, pendidikan harus nomor satu. Anak-anaknya –yakni saya dan saudara-saudara saya – harus sekolah.
Rata-rata tamat SMP atau SMA kami, anak-anak ibu, pergi merantau. Melanjutkan pendidikan atau mencari kerja. Dua anak ibu (nomor 4 dan 10) setelah merantau, kembali ke kampung halaman. Saya sendiri sebagai anak Pertama merantau untuk kuliah.
Tahun 2009 awal saya mula menetap di Makassar Hingga kini berarti sudah 3 tahun.
Beberapa kali saya pulang ke kampung, bertemu dengan ibu dan sanak saudara. Melepas rindu pada ibu. Namun bila telah kembali ke pulau MALILI, kidung rindu pada ibu tetap menderu dalam kebeningan jiwa.
Terakhir saya pulang tahun 2010. Sejak itu saya belum lagi melihat kampung halaman. Tetapi untunglah, saya selalu bisa berjumpa dengan ibu. Ibulah yang berkunjung ke Makassar, setelah sebelumnya mampir di tempat famili lainnya.
Kini, kidung rindu itu terus bergemuruh, berbantun-bantun, menelusup setiap desah napas. Gemuruh yang kian menderu manakala tembang “Ibu” di atas dilantunkan Iwan Fals. Begitu indah, begitu sahdu.
Dan di bebukitan dan indahnya pantai LOSARI, rinduku kian menggemuruh, bersama kidung kasih yang tetap mendayu-dayu.


